Beberapa tahapan dalam Membuat Film (Part 2)

Artikel ini adalah kelanjutan dari step – step membuat film yang sempat saya alami, mudah-mudahan ini dapat menolong kalian yang menyukai sekali buat film, apalagi banyak sekalia media sosial khususnya youtube, yang bisa saja bahan evaluasi buat kalian.

Kalian Dapat Mengupload hasil karya film yang kalian buat seperti karya film pendek, akan sangat banyak input buat kalian tiap yang comment di film kalian serta kalian akan semakin lebih bertumbuh lagi nantinya, jadi ini lah kelanjutan proses pengerjaan film:

1. Membuat Naskah Skrip

Naskah skrip adalah penerapan serta peningkatan dari sinopsis serta naskah narasi yang sudah dibikin oleh penulis naskah film.

Seorang penulis naskah skrip harus memiliki daya imaginasi yang baik. Sebab peningkatan sinopsis berbentuk skrip tuntut beberapa hal yang detil dari sisi sinopsis.

Selain itu, penulis naskah skrip harus juga paham dengan beberapa istilah kepenulisan skrip. Saya anggap dapat dipelajari dari buku-buku tehnis mengenai aplikasi pengerjaan naskah skrip.

Penulis naskah skrip harus paham dengan simbol-simbol visual atau ciri-ciri suara atau contoh satu film. Sebab film ialah simbol-simbol yang ada dalam karya visual yang mempunyai tujuan untuk mentransfer satu pesan pada pemirsa atau pencinta film.

Seorang penulis naskah skrip dituntut memiliki imajinasi yang kuat. Tiap scene ia dapat memikirkan situasi serta pesan yang akan dikatakan pada pemirsa. Kesadaran akan ruangan visual atau simbol-simbol visual harus teraplikasikan dengan cara benar.

2. Bedah Naskah (Scrypt Conference)

Bedah naskah ialah membahas serta mengenali dengan cara tehnis pada beberapa bagian naskah atau scene dari beberapa faktor untuk tahu kebutuhan-kebutuhan tehnis di lapangan (di saat produksi/tembakan day).

Kenapa bedah naskah ini penting? Sebab ini jadi ruangan gambaran serta sekaligus juga dialog di antara sutradara, penulis naskah, serta beberapa bagian lain dalam team produksi film. Hingga divisi-divisi lain dapat tahu tekad sutradara.

Beberapa unsur yang dibedah ada banyak hal, salah satunya ialah:

a. Seting waktu/masa & Property

Satu film pasti dengan maksud mengemukakan satu pesan, serta pesan ini tuntut banyak hal berkaitan masa/waktu dimana visualisasi film akan mengemukakannya. Ini termasuk juga seting fundamen satu film, serta ini akan memengaruhi seting serta property apa yang akan dipakai dalan film yang akan kita buat. Hingga dalam ini Art Director & Properti bertindak aktif dalam menterjemahkan tekad sutradara.

Lebih film fiksi. Film riwayat mengenai Hitler contohnya, seting serta propertinya tentu harus sesuai dengan zamannya. Serta pemainnya mustahil memakai/menggunakan jam tangan Rolex bikinan tahun 2017! Serta berasa lucu saat film masa modern dengan baju pemain tahun 70-an. Karena itu scrypt Conference jadi ruangan persetujuan di antara sutradara mengenai property yang dipakai.

Faktor ini mencakup benda apa yang diperlukan dalam tiap scene, baik keperluan dalam monitor atau di belakang monitor.

Dalam scene dinner keluarga, automatis scene ini memerlukan satu ruangan makan keluarga, set meja makan, seperangkat alat makan, makanan siap saji, serta beberapa accessories yang umum dalam satu ruangan makan, dan lain-lain.
Dalam scene berbelanja di pasar, pasti memerlukan ruangan/seting satu pasar, beberapa alat perdagangan, timbangan, rack, dan lain-lain yang memberikan dukungan situasi satu pasar.

Dalam faktor ini perlu ketelitian sisi continuity, supaya tiap adegan maupun scene jadi jalan cerita yang benar.

b. Visualisasi gambar

Faktor ini lebih pada visualisasi gambar yang akan di hadirkan dalam tiap scene. Peranan Director Of Fotografi (DOP) diperlukan secerdas kemungkinan menterjemahkan serta mentransformasikan tekad sutradara ke dalam visual.

Faktor ini dapat mencakup tipe alat yang akan dipakai, baik Camera, Lensa serta lighting (lampu) yang diperlukan. Termasuk juga jumlah shot yang diambil dalam satu scene, engle (pojok) pemungutan gambar serta unsur-u sur lain yang berkaitan dengan visual. Dalam ini seorang DOP harus pandai dalam memaknai lambang apa visual apa yang akan digunakan dalam visualisasi gambar.

Dalam bedah naskah ini sangkanya perlu terlibat seorang editor dalam gagasan koreksi yang akan ditangani untuk satu finalisasi visual. Perlu tidaknya animasi, atau trick-trik spesial dalam pemungutan gambar perlu diulas di antara DOP, editor, sound designer serta Sutradara. Hingga akan membuahkan visualisasi gambar yang fixed serta sesuai dengan yang diharapkan sutradara.

c. Sound effect serta contoh

Peranan audio dalam satu film benar-benar penting. Coba pikirkan satu film seram tanpa effect audio yang menyeramkan. Tentu tidak akan berasa satu film seram, serta pemirsa akan berasa datar-datar saja, serta feel-nya tidak masuk dalam ruangan serta situasi seram.

Karena itu dalam bedah naskah, perlu gambaran serta dialog di antara sutradara dengan Sound Designer, supaya feel pemirsa akan terikut pada situasi yang diinginkan oleh sutradara.

3. Recce & Survey Tempat

Recce dalam istilah-istilah yang saya baca ialah cari tempat yang pas untuk produksi film (tembakan) berkaitan dengan beberapa hal tehnis yang lain. Contohnya dengan keperluan lampu, serta alat dan property yang lain.

Sesudah naskah dibedah dalam scrypt conference, maka ada deskripsi tempat yang diharapkan serta disetujui oleh sutradara serta team lainnya. Karena itu Location Manager bekerja untuk survey tempat yang sesuai naskah itu. Dalam pekerjaan ini seharusnya seorang manager tempat dibarengi oleh sutradara, pimpinan produksi serta unit manager, supaya survey tempat bertambah lebih efisien serta irit waktu.

Banyak hal yang penting dicatat serta disurvey ialah:

a. Tempat/wilayah pada umumnya. Kampung, perkotaan, atau wilayah khusus yang sesuai naskah. Diinginkan beberapa titik tempat terkumpul pada sebuah daerah (bersisihan), supaya produksi film jadi efisien.

b. Tempat/ruangan wardrobe serta make up talenta (aktor).

c. Tempat/titik monitor sutradara serta pos property.

d. Tempat/ruangan transit talenta (aktor).

e. Tempat Parkir bagus untuk crew (team produksi) atau talenta.

f. Tempat Genset

g. Tempat/ruangan PU (Pelaksana Umum).

h. Toilet (MCK)

Semua titik tempat pasti perlu diperhitungkan perijinannya. Baik prosesnya atau pembiayaannya.

 

Baca Juga : Beberapa Beberapa tahapan dalam Membuat Film (Part 1)

4. Mem-breakdown Naskah Skrip

Mem-breakdown naskah skrip ialah mengklasifikasikan beberapa scene ke barisan khusus berdasar banyak hal. Salah satunya ; barisan scene berdasar talenta (pemainnya), barisan scene berdasar waktu, barisan scene berdasar tempat/tempat tembakan, dan lain-lain.

Breakdown naskah ini mempunyai tujuan untuk meng-efektifkan pekerjaan tembakan (di saat produksi). Sebab tanpa breakdown naskah yang baik, produksi film dapat tidak efisien serta alami pembengkakan ongkos.

Berikut tahap-tahap sederhana yang penting dilewati untuk menghasilkan satu film dalam Step Pra-Produksi. Setelah itu akan saya teruskan pada step Produksi. (Sisi #2).

Mengacu jika manajemen ialah seni mengurus, karena itu tahap-tahap ini bukanlah hal yang kaku, serta disederhanakan atau dibuat lebih kompleks juga memungkinkan. Semua tergantung pada kondisi dan situasi yang ada.