Month: April 2020

Beberapa tahapan dalam Membuat Film (Part 2)

Rapprochement – Artikel ini adalah kelanjutan dari step – step membuat film yang sempat saya alami, mudah-mudahan ini dapat menolong kalian yang menyukai sekali buat film, apalagi banyak sekalia media sosial khususnya youtube, yang bisa saja bahan evaluasi buat kalian.

Kalian Dapat Mengupload hasil karya film yang kalian buat seperti karya film pendek, akan sangat banyak input buat kalian tiap yang comment di film kalian serta kalian akan semakin lebih bertumbuh lagi nantinya, jadi ini lah kelanjutan proses pengerjaan film:

1. Membuat Naskah Skrip

Naskah skrip adalah penerapan serta peningkatan dari sinopsis serta naskah narasi yang sudah dibikin oleh penulis naskah film.

Seorang penulis naskah skrip harus memiliki daya imaginasi yang baik. Sebab peningkatan sinopsis berbentuk skrip tuntut beberapa hal yang detil dari sisi sinopsis.

Selain itu, penulis naskah skrip harus juga paham dengan beberapa istilah kepenulisan skrip. Saya anggap dapat dipelajari dari buku-buku tehnis mengenai aplikasi pengerjaan naskah skrip.

Penulis naskah skrip harus paham dengan simbol-simbol visual atau ciri-ciri suara atau contoh satu film. Sebab film ialah simbol-simbol yang ada dalam karya visual yang mempunyai tujuan untuk mentransfer satu pesan pada pemirsa atau pencinta film.

Seorang penulis naskah skrip dituntut memiliki imajinasi yang kuat. Tiap scene ia dapat memikirkan situasi serta pesan yang akan dikatakan pada pemirsa. Kesadaran akan ruangan visual atau simbol-simbol visual harus teraplikasikan dengan cara benar.

2. Bedah Naskah (Scrypt Conference)

Bedah naskah ialah membahas serta mengenali dengan cara tehnis pada beberapa bagian naskah atau scene dari beberapa faktor untuk tahu kebutuhan-kebutuhan tehnis di lapangan (di saat produksi/tembakan day).

Kenapa bedah naskah ini penting? Sebab ini jadi ruangan gambaran serta sekaligus juga dialog di antara sutradara, penulis naskah, serta beberapa bagian lain dalam team produksi film. Hingga divisi-divisi lain dapat tahu tekad sutradara.

Beberapa unsur yang dibedah ada banyak hal, salah satunya ialah:

a. Seting waktu/masa & Property

Satu film pasti dengan maksud mengemukakan satu pesan, serta pesan ini tuntut banyak hal berkaitan masa/waktu dimana visualisasi film akan mengemukakannya. Ini termasuk juga seting fundamen satu film, serta ini akan memengaruhi seting serta property apa yang akan dipakai dalan film yang akan kita buat. Hingga dalam ini Art Director & Properti bertindak aktif dalam menterjemahkan tekad sutradara.

Lebih film fiksi. Film riwayat mengenai Hitler contohnya, seting serta propertinya tentu harus sesuai dengan zamannya. Serta pemainnya mustahil memakai/menggunakan jam tangan Rolex bikinan tahun 2017! Serta berasa lucu saat film masa modern dengan baju pemain tahun 70-an. Karena itu scrypt Conference jadi ruangan persetujuan di antara sutradara mengenai property yang dipakai.

Faktor ini mencakup benda apa yang diperlukan dalam tiap scene, baik keperluan dalam monitor atau di belakang monitor.

Dalam scene dinner keluarga, automatis scene ini memerlukan satu ruangan makan keluarga, set meja makan, seperangkat alat makan, makanan siap saji, serta beberapa accessories yang umum dalam satu ruangan makan, dan lain-lain.
Dalam scene berbelanja di pasar, pasti memerlukan ruangan/seting satu pasar, beberapa alat perdagangan, timbangan, rack, dan lain-lain yang memberikan dukungan situasi satu pasar.

Dalam faktor ini perlu ketelitian sisi continuity, supaya tiap adegan maupun scene jadi jalan cerita yang benar.

b. Visualisasi gambar

Faktor ini lebih pada visualisasi gambar yang akan di hadirkan dalam tiap scene. Peranan Director Of Fotografi (DOP) diperlukan secerdas kemungkinan menterjemahkan serta mentransformasikan tekad sutradara ke dalam visual.

Faktor ini dapat mencakup tipe alat yang akan dipakai, baik Camera, Lensa serta lighting (lampu) yang diperlukan. Termasuk juga jumlah shot yang diambil dalam satu scene, engle (pojok) pemungutan gambar serta unsur-u sur lain yang berkaitan dengan visual. Dalam ini seorang DOP harus pandai dalam memaknai lambang apa visual apa yang akan digunakan dalam visualisasi gambar.

Dalam bedah naskah ini sangkanya perlu terlibat seorang editor dalam gagasan koreksi yang akan ditangani untuk satu finalisasi visual. Perlu tidaknya animasi, atau trick-trik spesial dalam pemungutan gambar perlu diulas di antara DOP, editor, sound designer serta Sutradara. Hingga akan membuahkan visualisasi gambar yang fixed serta sesuai dengan yang diharapkan sutradara.

c. Sound effect serta contoh

Peranan audio dalam satu film benar-benar penting. Coba pikirkan satu film seram tanpa effect audio yang menyeramkan. Tentu tidak akan berasa satu film seram, serta pemirsa akan berasa datar-datar saja, serta feel-nya tidak masuk dalam ruangan serta situasi seram.

Karena itu dalam bedah naskah, perlu gambaran serta dialog di antara sutradara dengan Sound Designer, supaya feel pemirsa akan terikut pada situasi yang diinginkan oleh sutradara.

3. Recce & Survey Tempat

Recce dalam istilah-istilah yang saya baca ialah cari tempat yang pas untuk produksi film (tembakan) berkaitan dengan beberapa hal tehnis yang lain. Contohnya dengan keperluan lampu, serta alat dan property yang lain.

Sesudah naskah dibedah dalam scrypt conference, maka ada deskripsi tempat yang diharapkan serta disetujui oleh sutradara serta team lainnya. Karena itu Location Manager bekerja untuk survey tempat yang sesuai naskah itu. Dalam pekerjaan ini seharusnya seorang manager tempat dibarengi oleh sutradara, pimpinan produksi serta unit manager, supaya survey tempat bertambah lebih efisien serta irit waktu.

Banyak hal yang penting dicatat serta disurvey ialah:

a. Tempat/wilayah pada umumnya. Kampung, perkotaan, atau wilayah khusus yang sesuai naskah. Diinginkan beberapa titik tempat terkumpul pada sebuah daerah (bersisihan), supaya produksi film jadi efisien.

b. Tempat/ruangan wardrobe serta make up talenta (aktor).

c. Tempat/titik monitor sutradara serta pos property.

d. Tempat/ruangan transit talenta (aktor).

e. Tempat Parkir bagus untuk crew (team produksi) atau talenta.

f. Tempat Genset

g. Tempat/ruangan PU (Pelaksana Umum).

h. Toilet (MCK)

Semua titik tempat pasti perlu diperhitungkan perijinannya. Baik prosesnya atau pembiayaannya.

 

Baca Juga : Beberapa Beberapa tahapan dalam Membuat Film (Part 1)

4. Mem-breakdown Naskah Skrip

Mem-breakdown naskah skrip ialah mengklasifikasikan beberapa scene ke barisan khusus berdasar banyak hal. Salah satunya ; barisan scene berdasar talenta (pemainnya), barisan scene berdasar waktu, barisan scene berdasar tempat/tempat tembakan, dan lain-lain.

Breakdown naskah ini mempunyai tujuan untuk meng-efektifkan pekerjaan tembakan (di saat produksi). Sebab tanpa breakdown naskah yang baik, produksi film dapat tidak efisien serta alami pembengkakan ongkos.

Berikut tahap-tahap sederhana yang penting dilewati untuk menghasilkan satu film dalam Step Pra-Produksi. Setelah itu akan saya teruskan pada step Produksi. (Sisi #2).

Mengacu jika manajemen ialah seni mengurus, karena itu tahap-tahap ini bukanlah hal yang kaku, serta disederhanakan atau dibuat lebih kompleks juga memungkinkan. Semua tergantung pada kondisi dan situasi yang ada.

Beberapa Beberapa tahapan dalam Membuat Film (Part 1)

Tulisan ini saya bikin sebenarnya hanya untuk mencatat semua yang saya alami, terutamanya dalam bagian film. Benar-benar tidak untuk menggurui. Sebab buat saya perjalanan hidup bisa menjadi masa lalu yang indah bila dicatat secara baik, supaya jadi catatan riwayat yang dapat diambil faedah serta maknanya untuk seseorang.

Yang lebih penting lagi ialah supaya bisa meninspirasi seseorang untuk bikin karya film. Bila ini terwujud, saya percaya akan memiliki multiple effect dalam peningkatan industri kreatif di Indonesia.

Baik, silahkan kita obrolkan mengenai “Produksi Film” dengan enjoy.

Film ialah karya kolektif, sebab karya ini adalah kombinasi dari piranti-perangkat yang sama-sama memberikan dukungan di antara satu dengan piranti yang lain. Ada penulis naskah, Sutradara, Asisten Sutradara, Art Director, Director of Fotografi (DOP), Lightingman, Gaffer, Cameramen, Clepper, Continuity, Waredrobe, Make Up, Sound Designer, Sound Director, Location Manajer, Pimpinan Produksi, Unit Manajer, Pelaksana Umum (PU), Editor, dan lain-lain.

Seperti satu skema yang terintegrasi, semua beberapa bagian itu harus dapat kerja bersama untuk arah yang sama, yaitu terbentuknya satu film. Tanpa kerja sama yang baik, satu produksi film akan pincang.

Walau kelihatannya kompleks, sebetulnya film dapat dibuat dengan piranti yang simpel. Sebab pada prinsipnya (menurut saya) bila visualisasi yang kita buat sudah memperlihatkan satu jalan cerita, intisari film sudah kita peroleh. Serta dengan piranti HP juga satu film dapat dibuat.

Pada umumnya, satu film dikerjakan lewat beberapa tahapan seperti berikut :

A. Pre-Production (Pra-Produksi)

Pra-Produksi merujuk pada beberapa hal yang dilaksanakan oleh Team Produksi sebelum eksekusi pemungutan gambar dalam membuat suatu film (sebelum produksi film).

Seperti dalam memasak satu makanan, mengawali produksi film perlu resep serta tingkatan kumpulkan bahan-bahannya dan mengolah bumbu-bumbunya.

Berdasar apa-apa yang saya alami, ada banyak tahap dalam step Pra-Produksi yang perlu dilakukan ; yakni:

1. Membuat Ide Fundamen Naskah Film

Langkah Pembuatan Film

Ide naskah di sini yang berisi, visi, misi, arah film dibikin, tipe/jenis film, waktu, segmentasi penontonnya serta piranti-perangkat fundamen yang melatarbelakangi satu film dibikin/dibuat. Atau dalam arti piranti keras (Hard Ware) satu Computer, ide film saya misalkan untuk detail HardWare.

Dengan detail yang pasti, potensi satu computer akan terpetakan. Demikian pula satu film, detailnya jelas akan terukur ingin ke mana imajinasi pemirsa dibawa, pesan apa yang ingin dikatakan (What to say? ) serta bagaimana (How to say? ) tehnik mengemukakan pesan dalam film yang akan kita bikin.

Bila dalam kerangka masakan atau makanan, Ide Fundamen Film dapat dimisalkan satu rencana makanan apa yang akan kita bikin?, dengan bahan apa? Dibarengi bumbu-bumbu apa sajakah? Berapakah ukuran bahan serta bumbu-bumbu itu? Bagaimana tehnis memasaknya? Dan lain-lain.

Ide fundamen ini harus jelas. Janganlah sampai kita ingin masak Sop, jadi justru Soto. Atau ingin buat sayur bening justru jadi lodeh! Pasti mengacaukan rasa. Film juga punyai karakter yang sama. Karena itu ide dasarnya harus jelas.

Ide Film Fiksi pasti tidak sama dengan film non fiksi. Semuanya tercantum pada ide fundamen naskah film.

Umumnya tahap ini oleh film maker jarang-jarang dibikin, serta cuma tersimpan dalam otaknya. Tetapi menurut irit saya ini penting, sebab ide fundamen berikut yang bisa menjadi rujukan saat proses pengerjaan film berjalan. Janganlah sampai ditengah-tengah proses pengerjaan film meleset dari arah intinya. Walau itu boleh-boleh saja, tetapi dapat buat ‘ribet’ satu produksi film.

2. Membuat Sinopsis Film

Sinopsis film ialah deskripsi umum satu film dengan cara naratif. Bila dalam film fiksi, sinopsis film akan menceritakan mengenai alur cerita film pada umumnya. Ini yang akan memicu satu naskah film dibikin, sebab di sinopsis tidak memvisualisasikan alur cerita dengan cara detil.

Dalam sinopsis film fiksi umumnya diterangkan alur cerita dengan cara naratif global. Perlu sangkanya mengutarakan stressing atau perselisihan-konflik yang akan ada. Selanjutnya ada ending yang tampil di belakang.

Bila untuk satu promo, dalam satu sinopsis umumnya ending film disembunyikan dengan satu pertanyaan. Ini terkadang dibutuhkan untuk merangsang calon pemirsa supaya ingin tahu serta terdorong untuk menontonnya.

Contohnya: “Dalam suatu kampung di atas bukit, hiduplah seorang pendekar tua yang hidup sebatangkara. Kehidupan setiap harinya cari kayu bakar serta daun-daunan untuk jadikan ramuan beberapa obat. Satu hari ia dikunjungi oleh sekumpulan anak muda yang berkemauan berguru kepadanya. Sesudah beberapa waktu berguru, serta di rasa cukup pengetahuan kependekarannya sekumpulan pemuda itu pamit pergi untuk menumpas kejahatan. Tetapi kakek tua itu belum mengijinkan. Bagaimana tindakan sekumpulan pemuda itu menumpas kejahatan? Kenapa kakek tua itu belum mengizinkan pemuda-pemuda itu untuk pergi serta menumpas kejahatan? Berhasilkah beberapa pemuda-pemuda itu lakukan kemauannya? Tonton kecerdikan beberapa pemuda itu dalam film ini! “

Ini sebatas contoh sinopsis yang berbentuk “provokatif, ” yang mempunyai tujuan untuk bikin calon pemirsa ingin tahu. Dalam sinopsis film ini ada misi promo untuk memberi rangsangan pada pemirsa untuk melihat film itu. Ada pula skema sinopsis yang datar-datar saja, tanpa ada beberapa kata “provokatif “. Tinggal kita pilih yang mana, monggo…

Dalam film Non-Fiksi sinopsis menurut saya masih diperlukan untuk tahu segmen-segmen serta jalur cerita dalam menggambarkan satu pesan atau pengetahuan. Film Non-Fiksi dapat dibikin tanpa sisi dramatik. Ada juga yang diselingi beberapa unsur menegangkan untuk penyambung antar fragmen atau untuk ‘pemanis’ satu pengantar pengetahuan/pesan.

3. Membuat Naskah Narasi

Sebelum membuat naskah skrip, sinopsis (lebih bagus) dibikin/ditransfer ke naskah

narasi dahulu. Sebab ini dibutuhkan untuk tahu jalan cerita dengan cara cukup detil serta adegan-adegan dengan cara naratif. Kemungkinan dapat dibikin satu narasi pendek dahulu, agar jalan cerita dapat dipetakan. Baru selanjutnya dibuatlah naskah skrip. Naskah narasi ini perlu untuk tahu garis besar cerita satu film, walau sedikit lebih detil.

Dalam pengerjaan naskah narasi seorang penulis naskah perlu sedikit mengerutkan dahinya untuk berimajinasi dalam detil ceritanya. Selain itu perlu ketelitian dalam jalan cerita. Tokoh siapapun sebagai protagonis, siapapun sebagai tokoh antagonis, mana saja sebagai netral, serta perselisihan-konflik apa yang ada, termasuk juga endingnya seperti apa. Semua harus terpetakan dalam naskah narasi ini.

Nah, naskah narasi ini semakin lebih gampang dipetakan atau diatur bila film yang akan kita bikin mengambil sumber dari satu cerpen (narasi pendek) atau novel. Tinggal menyimak narasi serta mengartikan dalam bahasa visual film.

Selain itu juga, penulis naskah perlu menyimak serta mengenali property apa yang akan ada dalam narasi itu. Ini tidak cuma keperluan satu narasi an-sich, dan juga diperlukan rekonsilasi pada anggaran produksi film.

Jadi simpulan sesaat, pengerjaan jalan cerita (terutamanya dalam film fiksi) perlu beberapa tahapan khusus supaya kita tidak ketidaktahuan dalam penggarapan satu film.

Dalam film dokumenter juga memerlukan naskah yang dengan cara naratif menggambarkan beberapa informasi yang akan kita berikan dalam film dokumenter itu. Berikut yang akan memvisualisasikan segmen-segmen mana yang dramatik atau deskriptif, sebelum masuk dalam breakdown storyboard.

Baca Juga : PRODUKSI FILM BALAD

4. Membuat Naskah Skrip

Naskah skrip adalah penerapan serta peningkatan dari sinopsis serta naskah narasi yang sudah dibikin oleh penulis naskah film.
Seorang penulis naskah skrip harus memiliki daya imaginasi yang baik. Sebab peningkatan sinopsis berbentuk skrip tuntut beberapa hal yang detil dari sisi sinopsis.

Selain itu, penulis naskah skrip harus juga paham dengan beberapa istilah kepenulisan skrip. Saya anggap dapat dipelajari dari buku-buku tehnis mengenai aplikasi pengerjaan naskah skrip.

Penulis naskah skrip harus paham dengan simbol-simbol visual atau ciri-ciri suara atau contoh satu film. Sebab film ialah simbol-simbol yang ada dalam karya visual yang mempunyai tujuan untuk mentransfer satu pesan pada pemirsa atau pencinta film.

Seorang penulis naskah skrip dituntut memiliki imajinasi yang kuat. Tiap scene ia dapat memikirkan situasi serta pesan yang akan dikatakan pada pemirsa. Kesadaran akan ruangan visual atau simbol-simbol visual harus teraplikasikan dengan cara benar.